Sejak menjadi seorang istri, saya mulai mengalami masa-masa pencarian jati diri kembali. Sebelum saya menikah, bekerja di bidang akademisi atau bidang penelitian menjadi pekerjaan yang ingin saya raih. Semua itu berubah setelah menjalani pernikahan hingga menginjak usia tiga tahun pernikahan. Rasa-rasanya meniti karier dengan bekerja di kantoran, bahkan dengan penghasilan tinggi bukan hal yang sangat menggiurkan lagi. Apalagi saya mulai memikirkan anak yang akan hadir sebentar lagi.
Namun bukan perkara mudah memutuskan menjadi ibu yang bekerja di rumah atau di kantor. Terbiasa dengan pekerjaan, bahkan hingga terkena sindrom workaholic membuat saya berat untuk bekerja di rumah. Segala kebutuhan rumah tangga dan pribadi menuntut seorang wanita untuk ikut andil dalam mencari nafkah, dual ernearn namanya. Kebutuhan memenuhi sandang, pangan, hingga papan; mulai dari hal kecil seperti membeli kosmetik dan fashion yang seringkali terus menyerang kaum hawa, hingga hal besar seperti rumah dan kendaraan pribadi akan selalu ada. Saya hingga 3 tahun menikah ini belum memiliki rumah, sudah tiga kali pindah sana sini juga terkadang tergoda untuk tetap bekerja. Semangat membeli rumah menjadi hal yang begitu besar mendorong saya untuk bekerja, disamping suami yang menolak untuk mencicil rumah dengan KPR Bank. Perlu diketahui suami saya adalah lulusan ekonomi syariah yang memang menolak tegas segala macam cicilan kecuali sesuai syariat. Makin lama saja kami akan memiliki rumah sendiri, gumam saya.
Adakalanya saya berfikir, apakah tetap bekerja di kantor atau menjadi ibu rumah tanga? Apalagi mau Punya anak dan kegalauan itu pun terus menghantui. Rasanya kuliah selama 4 tahun tentang parenting tidak bisa saya praktekan secara maksimal kepada anak sendiri. Sebelum memutuskannya, saya pun mempertimbangkan beberapa hal yang saya baca dan pelajari. Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan bekerja di rumah atau di kantor:
1. Kenali diri kita
Sebelum memulai mempertimbangkannya, kita perlu mengenal diri kita sendiri. Sifat, hobi, passion, dan segala hal tentang kita. Introvert dan ekstrovert juga berpengaruh. Bagaimana jika dalam kerjaan seorang introvert tapi dipaksa untuk menjadi ekstrovert? Atau sebaliknya seorang ekstrovert harus menghadapi kondisi dimana tidak ada teman atau lingkungan mendukung untuk berinteraksi di rumah? Baik ataupun buruk semua harus dicatat. Kita bisa mendiskusikannya dengan suami. Buat list atau catatan khusus. Selain itu bisa juga ikut seminar, kulwap, sharing yang membahas tentang self discovery.
2. Pekerjaan yang kita sukai
Membahas tentang pekerjaan yang cocok selalu dikaitkan dengan passion.Tapi apa itu passion? Secara garis besar passion adalah sebuah panggilan jiwa, sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas, tanpa paksaan dan suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang. Jika ingin mengetahui lebih detail kita bisa membacanya di sini. Selain tentang passion kita juga harus mengetahui tipe pekerjaan apa yang disukai, selain cocok, apakah bekerja di luar ruangan atau di dalam ruangan? Bekerja di depan laptop atau berinteraksi dengan orang lain? Bekerja di jam yang tidak terikat atau terikat? Buatlah list pekerjaannya karena ibu bekerja di rumah maupun di kantor sebenarnya punya kriteria tersebut. Tinggal kita pilih yang sesuai, tentu melalui diskusi dengan suami. Tapi ingat, jangan pilih pekerjaan yang menyita waktu apalagi yang menuntut lembur terus. Semua itu akan berdampak pada tingkat stress yang akan kita hadapi dan tentunya sangat berpengaruh pada mental diri sendiri, suami dan anak.
3. Orang yang mengurus anak
Sebelum memutuskan, kita harus memastikan dan mempertimbangkan dengan matang siapa yang akan merawat dan mendidik anak di rumah. Memang pilihan terbaik dan terpercaya jatuh pada orang tua/mertua karena anda/suami mengalami sendiri bagaimana pendidikan yag diberikan orang tua/mertua. Akan tetapi kita dan suami perlu memikirkan baik-baik, benarkah tepat memberikan (kembali) pengasuhan anak kepada orang tua atau mertua? Atau dititipkan di daycare/pembantu rumah tangga? Saya akan bahas secara detail mengenai baik buruknya masing-masing pilihan tersebut di sini
4. Management stress
Ibu bekerja di rumah maupun di kantor memiliki tekanan stress dengan sumber yang berbeda. Hal ini yang patut diantisipasi agar tidak berdampak pada mental kita, suami maupun anak. Kita perlu mempelajari dan mencari yang akan menjadi sumber-sumber stress ibu bekerja di rumah maupun di kantor kemudian cari copying strategi (solusi) untuk menghadapinya. Pertimbangkan pula mana yang kemungkinan sesuai dengan diri sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri bahwa kita bisa hadapinya tapi sebenernya kita lebih cenderung mudah menghadapi tekanan stress yang lain. Karena keputusan itu akan menentukan kehidupan keluarga kita ke depan.
5. Management waktu
Mengenai management waktu ini sebenarnya ibu bekerja di rumah juga sangat memerlukannya. Ibu yang bekerja di kantor akan tahu kapan mereka bekerja tapi ibu bekerja di rumah tidak terbatas dengan waktu. Salah dalam management malah nanti yang ada kita terbuai dengan waktu bisa berakhir kepada kemalasan. Dampak terbesarnya kita jadi tidak produktif. Jika memilih untuk bekerja di kantor jangan lupa alokasikan waktu setiap hari quality time bersama anak dan quality time bersama suami. Apakah Anda tipe yang harus dipaksa atau tipe yang bisa beradaptasi dan mandiri.
6. Khawatir dengan rezeki dan keuangan
Menurut saya hal ini menjadi hal paling terakhir bahkan sebenarnya bukan menjadi list untuk dipertimbangkan. Karena Allah sudah mempersiapkan rezeki masing-masing. Tinggal keyakinan kita terhadap Allah. Tapi di zaman modern sekarang ini tidak dipungkiri sebuah keluarga tidak terlepas akan berbagai cicilan yang sudah disepakati dengan pasangan. Maka diskusikan dengan suami, apakah bisa dihandle oleh suami saja sambil kita merintis pekerjaan anda yang baru di rumah atau bisa hanya dengan satu income tanpa anda bekerja ?
Dalam keuangan, gaya hidup juga berpengaruh besar lho. Jadi kita harus siap berubah gaya hidup. Dengan bekerja di rumah maupun di kantor biasanya akan mengalami perubahan tersebut. Mengenai rezeki ini ada beberapa tulisan menarik yang sempat saya baca. Menurut saya bagus juga jika anda baca sebagai bahan untuk meyakinkan diri anda. Klik di sini.
7. Banyak membaca pengalaman para ibu yang bekerja di rumah ataupun di kantor
Pengalaman adalah guru kehidupan terbaik. Hayuk kita mulai searching pengalaman ibu yang bekerja di rumah dan di kantor. Mengenai baik dan buruknya.
Semoga menginspirasi dan membantu ! Anda juga bisa follow aku IG saya di ifah_kholifah untuk lihat update-an terbaru tulisan di web ini. InsyaAllah saya akan sharing banyak hal termasuk sharing ilmu baru di sana. Semangat!! Kita adalah wanita-wanita tangguh yang memang harus terus belajar terus menerus. Apapun keputusan Anda, itulah yang terbaik untuk keluarga anda. Tentu dengan pertimbangan yang mating biar tidak ada penyesalan. Thank you for reading!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar