Kamis, 28 November 2019

Menjadi Ibu Rumah Tangga Atau Ibu Pekerja?

Sejak menjadi seorang istri, saya mulai mengalami masa-masa pencarian jati diri kembali. Sebelum saya menikah, bekerja di bidang akademisi atau bidang penelitian menjadi pekerjaan yang ingin saya raih. Semua itu berubah setelah menjalani pernikahan hingga menginjak usia tiga tahun pernikahan. Rasa-rasanya meniti karier dengan bekerja di kantoran, bahkan dengan penghasilan tinggi bukan hal yang sangat menggiurkan lagi. Apalagi saya mulai memikirkan anak yang akan hadir sebentar lagi.


Namun bukan perkara mudah memutuskan menjadi ibu yang bekerja di rumah atau di kantor. Terbiasa dengan pekerjaan, bahkan hingga terkena sindrom workaholic membuat saya berat untuk bekerja di rumah. Segala kebutuhan rumah tangga dan pribadi menuntut seorang wanita untuk ikut andil dalam mencari nafkah, dual ernearn namanya. Kebutuhan memenuhi sandang, pangan, hingga papan; mulai dari hal kecil seperti membeli kosmetik dan fashion yang seringkali terus menyerang kaum hawa, hingga hal besar seperti rumah dan kendaraan pribadi akan selalu ada. Saya hingga 3 tahun menikah ini belum memiliki rumah, sudah tiga kali pindah sana sini juga terkadang tergoda untuk tetap bekerja. Semangat membeli rumah menjadi hal yang begitu besar mendorong saya untuk bekerja, disamping suami yang menolak untuk mencicil rumah dengan KPR Bank. Perlu diketahui suami saya adalah lulusan ekonomi syariah yang memang menolak tegas segala macam cicilan kecuali sesuai syariat. Makin lama saja kami akan memiliki rumah sendiri, gumam saya. 

Adakalanya saya berfikir, apakah tetap bekerja di kantor atau menjadi ibu rumah tanga?  Apalagi mau Punya anak dan kegalauan itu pun terus menghantui. Rasanya kuliah  selama 4 tahun tentang parenting tidak bisa saya praktekan secara maksimal kepada anak sendiri.  Sebelum memutuskannya, saya pun mempertimbangkan beberapa hal yang saya baca dan pelajari. Apa saja yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan bekerja di rumah atau di kantor:

1. Kenali diri kita


Sebelum memulai mempertimbangkannya, kita perlu mengenal diri kita sendiri. Sifat, hobi, passion, dan segala hal tentang kita. Introvert dan ekstrovert juga berpengaruh. Bagaimana jika dalam kerjaan seorang introvert tapi dipaksa untuk menjadi ekstrovert? Atau sebaliknya seorang ekstrovert harus menghadapi kondisi dimana tidak ada teman atau lingkungan mendukung untuk berinteraksi di rumah?  Baik ataupun buruk semua harus dicatat. Kita bisa mendiskusikannya dengan suami. Buat list atau catatan khusus. Selain itu bisa juga ikut seminar, kulwap, sharing yang membahas tentang self discovery.

2. Pekerjaan yang kita sukai


Membahas tentang pekerjaan yang cocok selalu dikaitkan dengan passion.Tapi apa itu passion? Secara garis besar passion adalah sebuah panggilan jiwa, sesuatu yang dikerjakan dengan ikhlas, tanpa paksaan dan suatu bentuk panggilan dari alam bawah sadar seseorang. Jika ingin mengetahui lebih detail kita bisa membacanya di sini. Selain tentang passion kita juga harus mengetahui tipe pekerjaan apa yang disukai, selain cocok, apakah bekerja di luar ruangan atau di dalam ruangan? Bekerja di depan laptop atau berinteraksi dengan orang lain? Bekerja di jam yang tidak terikat atau terikat? Buatlah list pekerjaannya karena ibu bekerja di rumah maupun di kantor sebenarnya punya kriteria tersebut. Tinggal kita pilih yang sesuai, tentu melalui diskusi dengan suami. Tapi ingat, jangan pilih pekerjaan yang menyita waktu apalagi yang menuntut lembur terus. Semua itu akan berdampak pada tingkat stress yang akan kita hadapi dan tentunya sangat berpengaruh pada mental diri sendiri, suami dan anak.

3. Orang yang mengurus anak


Sebelum memutuskan, kita harus memastikan dan mempertimbangkan dengan matang siapa yang akan merawat dan mendidik anak di rumah. Memang pilihan terbaik dan terpercaya jatuh pada orang tua/mertua karena anda/suami mengalami sendiri bagaimana pendidikan yag diberikan orang tua/mertua. Akan tetapi kita dan suami perlu memikirkan baik-baik, benarkah tepat memberikan (kembali) pengasuhan anak kepada orang tua atau mertua? Atau dititipkan di daycare/pembantu rumah tangga? Saya akan bahas secara detail mengenai baik buruknya masing-masing pilihan tersebut di sini

4. Management stress


Ibu bekerja di rumah maupun di kantor memiliki tekanan stress dengan sumber yang berbeda. Hal ini yang patut diantisipasi agar tidak berdampak pada mental kita, suami maupun anak. Kita perlu mempelajari dan mencari yang akan menjadi sumber-sumber stress ibu bekerja di rumah maupun di kantor kemudian cari copying strategi (solusi) untuk menghadapinya. Pertimbangkan pula mana yang kemungkinan sesuai dengan diri sendiri. Jangan terlalu memaksakan diri bahwa kita bisa hadapinya tapi sebenernya kita lebih cenderung mudah menghadapi tekanan stress yang lain. Karena keputusan itu akan menentukan kehidupan keluarga kita ke depan.

5.    Management waktu


Mengenai management waktu ini sebenarnya ibu bekerja di rumah juga sangat memerlukannya. Ibu yang bekerja di kantor akan tahu kapan mereka bekerja tapi ibu bekerja di rumah tidak terbatas dengan waktu. Salah dalam management malah nanti yang ada kita terbuai dengan waktu bisa berakhir kepada kemalasan. Dampak terbesarnya kita jadi tidak produktif. Jika memilih untuk bekerja di kantor jangan lupa alokasikan waktu setiap hari quality time bersama anak dan quality time bersama suami. Apakah Anda tipe yang harus dipaksa atau tipe yang bisa beradaptasi dan mandiri.

6.     Khawatir dengan rezeki dan keuangan


Menurut saya hal ini menjadi hal paling terakhir bahkan sebenarnya bukan menjadi list untuk dipertimbangkan. Karena Allah sudah mempersiapkan rezeki masing-masing. Tinggal keyakinan kita terhadap Allah. Tapi di zaman modern sekarang ini tidak dipungkiri sebuah keluarga tidak terlepas akan berbagai cicilan yang sudah disepakati dengan pasangan. Maka diskusikan dengan suami, apakah bisa dihandle oleh suami saja sambil kita merintis pekerjaan anda yang baru di rumah atau bisa hanya dengan satu income tanpa anda bekerja ?
Dalam keuangan, gaya hidup juga berpengaruh besar lho. Jadi kita harus siap berubah gaya hidup. Dengan bekerja di rumah maupun di kantor biasanya akan mengalami perubahan tersebut. Mengenai rezeki ini ada beberapa tulisan menarik yang sempat saya baca. Menurut saya bagus juga jika anda baca sebagai bahan untuk meyakinkan diri anda. Klik di sini

7.    Banyak membaca pengalaman para ibu yang bekerja di rumah ataupun di kantor


Pengalaman adalah guru kehidupan terbaik. Hayuk kita mulai searching pengalaman ibu yang bekerja di rumah dan di kantor. Mengenai baik dan buruknya. 


Semoga menginspirasi dan membantu ! Anda juga bisa follow aku IG saya di ifah_kholifah untuk lihat update-an terbaru tulisan di web ini. InsyaAllah saya akan sharing banyak hal termasuk sharing ilmu baru di sana. Semangat!! Kita adalah wanita-wanita tangguh yang memang harus terus belajar terus menerus. Apapun keputusan Anda, itulah yang terbaik untuk keluarga anda. Tentu dengan pertimbangan yang mating biar tidak ada penyesalan. Thank you for reading!

Rabu, 11 November 2015

TAHAPAN MENUJU PERNIKAHAN



Assalamualaikum ukhti dan akhi ^^. 

Setelah kemarin kita membahas tentang proposal nikah, sekarang kita masuk ke tahap berikutnya. Tahapan-tahapan yang harus dilalui wanita dan laki-laki yang sudah mantap menikah. Tahapan ini sangat teknis. Ada yang bisa di skip. Semua tahapan juga tergantung dari budaya dan adat istiadat yang berlaku di keluarga, khususnya keluarga mempelai perempuan. Terpenting lagi, agama lebih menentukan. Saya seorang muslim sehingga penjabaran dalam tulisan lebih banyak di pengaruhi oleh agama saya.

Tahapan-tahapan tersebut terdiri dari :

1. Pertemuan calon mempelai laki-laki dengan orang tua perempuan (Khitbah)

Disaat pertemuan ini, laki-laki secara terang-terangan ingin melamar. Respon orang tua perempuan berbeda-beda, ada yang memberi syarat untuk melakukan sesuatu seperti menyelesaikan study missal atau bisa langsung mengiyakan dan membicarakan tahapan selanjutnya. Anda bisa mengajukan option untuk melanjutkan proses hingga persiapan apabila respon orang tua si dia mengajukan syarat dengan berjanji akan memenuhi syarat itu sebelum hari H pernikahan. Tentu pertanyataan tersebut bisa membuktikan kepada orang tua si dia kalau anda orang yang bertanggung jawab dan menepati janji. Disinilah terjadi khitbah. Kebanyakan dari kita belum mengetahui dengan jelas dimana tahapan yang disebut khitbah, bahkan menyamakan khitbah dengan tunangan pada umumnya.





2. Pertemuan dua keluarga
 
Ada baiknya, setelah seorang pria mengkhitbah seorang perempuan serta adanya keridhoan dari semua pihak, segerakan diadakan pertemuan antara dua keluarga. Pertemuan ini ditujukan untuk  mendiskusikan kapan dan dimana pernikahan akan dilaksanakan. Perlu kita ketahui, dengan kondisi dan kebiasaan pernikahan masyarakat sekarang ini khususnya di daerah perkotaan, persiapan pernikahan bisa memakan waktu 3 bulan paling minimal. Disegerakannya proses pertemuan ini agar dapat menyelaraskan pandangan dan perencanaan perencanaan. Masyarakat sering menyebutkan tahapan ini dengan lamaran/tunangan.


3. Akad nikah

Tahapan menuju pernikahan memang hanya terdiri dari 3 tahapan saja. Simple dan ringkas. Tahukah anda, proses paling menegangkan dan menguras tenaga adalah tahapan antara pertemuan keluarga hingga akad nikah. Pada tahapan ini biasanya terjadi perdebatan batin, keragu-raguan dan kecemasan melanda kedua calon pengantin. Kita sering menyebutnya godaan sebelum menikah atau sindrom pra nikah. Sindrom pada tiap orang berbeda-beda. Saya hanya mengingatkan kepada saudara/I untuk menguatkan tekad dan tidak melepas sholat istikharahnya pada tahapan ini. Godaannnya besar. Sekali lagi mungkin saya akan mengkambing hitamkan setan. Setan akan berusaha sekuat tenaga dan melakukan berbagai cara agar kita, hamba Allah, tidak beribadah bukan? Bukankah menikah selalu diibaratkan menyempurnakan separuh agama? Semangat untuk saudara/I ku yang akan menikah ^^



Sekian dulu ya…. The next posting, insya allah saya akan menjabarkan tentang perencanaan pernikahan. See youu~~~~

Selasa, 14 Juli 2015

Terlambat

Sore ini. Aku menyusuri jalan pulang ke rumah. Sudah lama sekali aku tak merasakan sore disini. Dan aku rasa rasanya ingin menangis.

Sekarang, disaat engkau akan pergi, aku baru merasakan keberadaanmu. Keberadaan, yang hampir satu bulan, tak aku sadari. Terlambatkah? Iya, itu jawabmu kesal. Rasa rasanya aku ingin memelukmu erat agar kau tak pergi.

'Bisakah kita bertemu lagi tahun depan?' Ratapku

'Lalu kamu akan cuek lagi padamu? Seperti sekarang?' Katamu yang bagaikan sebuah jarum tertusuk tepat di hatiku.

'Maaf. Aku benar-benar minta maaf, Ramadhan. Aku benar benar menjadi orang yanh merugi. Merasakan kehadiranmu disaat saat engkau akan pergi. Aku akan memupuk rindu rindu padamu hingga tumbuh dan akan aku lampiaskan semuanya ketika kita bertemu. Boleh? Tanyaku ragu.

' ya. Asal kamu memegang janjimu itu. Semoga kita saat itu semakin erat dekat'

'Aamiin'

Selasa, 14 july 2015
Hari ke 26 di bulan Ramadhan tahun ini.

Jumat, 05 Juni 2015

Ketika Merindu

Rindu. Sebuah kata yang dimiliki manusia, kadang menyiksa, kadang juga menjadi tanda bahwa kita mencintai. Ya, rindu. Aku akui aku rindu. Rindu membaca buku-buku akademikku, buku-buku berisi keilmuanku. Rindu berinteraksi dengan masyarakat. Berjalan jauh, disengat matahari, panas-panasan, di tolak sana sini bahkan d tatap sinis. Tak mengapa. Itukah tanda aku mencintainya?

Ah, deretan data-data yang begitu banyak. Aku merinduinya. Menyusun kalimat. Kalimat yang memberitahu seseorang tentang kenyataan yang aku dapat. Aku rindu. Sangat rindu. Akankah aku terbuai olehmu lagi, wahai yang aku rindukan?

Selasa, 12 Agustus 2014

Seminar 7 Tahap Menuju Pernikahan

Kali aja ada yang mau ikut.. hehe.. Saya post disini sekalian buat dokumentasi.. Kali aja dan semoga aja setelah saya sudah melewati tahap tahap sampai gerbang sana (gerbang sekolah bu??? Iya sekolah kehidupan.. buahahaha) saya bisa sharing sharing.

Dan mohon doanya juga semoga saya bisa menuntut ilmu lebih banyak di bidang keluarga dan anak. Entah kenapa ketika saya memilih jurusan, tempat dan universitas hal yang pertama kali saya pikirkan adalah

"apakah ilmu di negara ini cocok buat memajukan Indonesia? Bisakah di terapkan? Dan bisakah berguna untuk Indonesia?"

Yups, tujuan utama saya melanjutkan kuliah, selain untuk diri saya sendiri, saya pun ingin ilmu ini berguna untuk Indonesia dan umat muslim di dunia agar tercipta keluarga dan generasi yang berkualitas. Kepada pembaca yang mengenal saya, semoga jika suatu hati nanti saya lupa akan tujuan ini atau melenceng sedikit.. mohon kritikan dan pengingatnya ^^

Sabtu, 09 Agustus 2014

Makaroni Schotel

Assalamualaikum.

Hal yang mengasyikkan dari blogspot.. bisa post dari HP.. yeaaa.. apalagi saya jarang banget akses internet PC semenjak laptop menolak di sandingkan dengan modem smartfren saya.

Kali ini saya akan share resep hasil eksperimen saya. Sudah lama rasanya tidak membuat makanan baru lagi :D. Jaman kuliah kayaknya sulu sering banget bikin makanan terua bagi bagi ke temen untul tester. Bahan utama kali MAKARONI.

Resep :
- 4 butir telur
- Kornet/daging cincang
- Makaroni
-garam
-1 buah bawang bombay (biasanya sih 2 buah soalnya sekeluarga suka sama bawang yang satu ini)
-3 siung bawang putih
-merica
-keju cheddar, parut
-mentega
- 4/5 sdm Susu plain full cream (bsa bubuk, bisa cair)

Pelengkap : keju mozarella (optional)

Cara membuat :

1. Rebus makaroni dengan minyak dan garam. Minyak ini berfungsi agar pasta tidak saling melekat satu sama lain. Sisih dan tiriskan.

2. Panaskan wajan dan mentega. Masukkan bawang putih hingga harum lalu bawang bombay. Setelah bawang bombay layu, masukkan kornet hingga matang. Menumis daging cincang akan lebih lama dibandingkan kornet. Setelah matang angkat dan sisihkan. Mentega merupakan pemberi rasa juga ke makanan nanti. Jadi seperti bahan utama makaroni.

3. Kocok telur dengan garam hingga tercampur. Masukkan parutan keju. Makin banyak keju akan makin enyak. Kemudian masukkan bahan tumisan dan hancurkan daging/kornet yang menyatu sambil di kocok. Kemudian masukkan makaroni dan merica. Campur hingga rata.

4. Ambil pinggan tahan panas. Masukkan adonan. Makaroni ini bisa di panggang di oven ataupun di kukus. Jika di panggang bisa di tambahkan keju mozarella di atasnya. Jika di kukus, setelah di kukus lebih baik dimasukkan ke kulkas setelah matang dan dingin. Karena makaroni yang di kukus teksturnya tidak sepadat di panggang sehingga harus d diamkan di kulkas agar padat.

Vaiolaaa.... makaroni schotel sudah siap di santap. Selamat mencoba! Simple qo. Aturan dalam memasak itu, ya.. terbiasa. Makin terbiasa memasak insya allah makanan kita makin enak. Semua orang bisa masak qo :D

Kamis, 07 Agustus 2014

Diantara yang mencinta

Ini sebuah kisah yang tiga orang manusia. Tiga orang yang di antaranya skenario Allah lah yang paling misterius. Kisah yang mungkin terlalu meanstream dan nyata.

Pada satu pertemuan biasa, dua insan bertemu pada kegiatan yang tidak biasa. Sebenarnya si wanita tak berniat mengikuti kegiatan tersebut. Ada aktivitas yang lebih penting diikuti dari itu. Tapi sang wanita terlalu memiliki rasa tidak enakkan, ia akhirnya ikut acara tersebut. Pertemuan pertama biasa. Pertemuan kedua semakin akrab. Hingga pertemuan dan obrolan selanjutnya menjadi tak pernah biasa. Tak terlewati satu hari pun sang pria menyapa sang wanita.

Kenangan demi kenangan pun tercipta. Kenangan yang tidak akan bisa di alami dengan yang lain. Mungkin hanya bisa di gantikan dengan yang lebih terindah dengan orang di depan. Puncaknya, ketika kedua insan tersebut di kondisikan hanya mereka berdua yang kenal diantara yang lain. Semua asing dan baru. Dua hari yang tak biasa. Hingga di penghujung bulan, sang pria mengungkapkan perasaan yang tak biasa. Akhirnya? Ketidaksiapan memang sangat menghinggapi keduanya.

Saat sedang merajut kesiapan.. Wanita terus berkelana. Mengenal siapapun yang bisa d kenalnya. Sang pria mencari pelampiasan. Beraktivitas sana sini. Hingga hinggap di sebuah bukit terpencil, mendidik. Bertemu orang yang tak terdua. Di kenal namun memunculkan sesuatu yang asing.

Setengaj tahun berlalu. Dan sang wanita pun tersadar. Sudah tak ada yang biasa di antara yang biasa dengan sang pria. Hingga sang pria berkenala ke negeri sebrang. Sang wanita mengajak orang tak terduga melakukan aktivitas menyenangkan, menggunakan peralatan sang pria. Saat itu orang yang tak terduga bersikeras menyimpan barang barang sang pria. Ingin memiliki barang barang sang pria. Sang wanita terperajat. Ia tanyakan pada sang pria, beri orang tak terduga atau teman terdekat? Orang tak terduga saja. Fix, ini muncul rasa tak biasa di antara mereka.

Setengah tahun kemudian, sang wanita mengajak sang pria berkelana ke negeri utara. Perkelanaan itu menjadi perkelanaan terakhir di antara kita, ujar dalam hati sang wanita. Entah, ia begitu yakin. Dan selanjutnya dia tak ingin ada pria itu lagi. Mungkin krna sebuah permohonan izin.Yup, itulah yang terjadi. Dan suatu hari nanti mungkin akan bercerita sejujurnya kepada sang pria, bagaimana orang tak terduga bersikap dan bersikeras  memiliki barang sang pria sudah sejak lama. Lama sebelum sang pria kembali pertama kali dari perantauan. Agar ia bisa menjauh tanpa di minta. Ketika diantara yang mencinta.

Sang wanita? Ia memiliki cerita sendiri. Cerita yang lebih tak terduga. Yang ia sendiri belum bisa ungkapkan. Cerita yang akhirnya masih di simpan sang skenario terbaik. Allah. ^^