Selasa, 12 Agustus 2014

Seminar 7 Tahap Menuju Pernikahan

Kali aja ada yang mau ikut.. hehe.. Saya post disini sekalian buat dokumentasi.. Kali aja dan semoga aja setelah saya sudah melewati tahap tahap sampai gerbang sana (gerbang sekolah bu??? Iya sekolah kehidupan.. buahahaha) saya bisa sharing sharing.

Dan mohon doanya juga semoga saya bisa menuntut ilmu lebih banyak di bidang keluarga dan anak. Entah kenapa ketika saya memilih jurusan, tempat dan universitas hal yang pertama kali saya pikirkan adalah

"apakah ilmu di negara ini cocok buat memajukan Indonesia? Bisakah di terapkan? Dan bisakah berguna untuk Indonesia?"

Yups, tujuan utama saya melanjutkan kuliah, selain untuk diri saya sendiri, saya pun ingin ilmu ini berguna untuk Indonesia dan umat muslim di dunia agar tercipta keluarga dan generasi yang berkualitas. Kepada pembaca yang mengenal saya, semoga jika suatu hati nanti saya lupa akan tujuan ini atau melenceng sedikit.. mohon kritikan dan pengingatnya ^^

Sabtu, 09 Agustus 2014

Makaroni Schotel

Assalamualaikum.

Hal yang mengasyikkan dari blogspot.. bisa post dari HP.. yeaaa.. apalagi saya jarang banget akses internet PC semenjak laptop menolak di sandingkan dengan modem smartfren saya.

Kali ini saya akan share resep hasil eksperimen saya. Sudah lama rasanya tidak membuat makanan baru lagi :D. Jaman kuliah kayaknya sulu sering banget bikin makanan terua bagi bagi ke temen untul tester. Bahan utama kali MAKARONI.

Resep :
- 4 butir telur
- Kornet/daging cincang
- Makaroni
-garam
-1 buah bawang bombay (biasanya sih 2 buah soalnya sekeluarga suka sama bawang yang satu ini)
-3 siung bawang putih
-merica
-keju cheddar, parut
-mentega
- 4/5 sdm Susu plain full cream (bsa bubuk, bisa cair)

Pelengkap : keju mozarella (optional)

Cara membuat :

1. Rebus makaroni dengan minyak dan garam. Minyak ini berfungsi agar pasta tidak saling melekat satu sama lain. Sisih dan tiriskan.

2. Panaskan wajan dan mentega. Masukkan bawang putih hingga harum lalu bawang bombay. Setelah bawang bombay layu, masukkan kornet hingga matang. Menumis daging cincang akan lebih lama dibandingkan kornet. Setelah matang angkat dan sisihkan. Mentega merupakan pemberi rasa juga ke makanan nanti. Jadi seperti bahan utama makaroni.

3. Kocok telur dengan garam hingga tercampur. Masukkan parutan keju. Makin banyak keju akan makin enyak. Kemudian masukkan bahan tumisan dan hancurkan daging/kornet yang menyatu sambil di kocok. Kemudian masukkan makaroni dan merica. Campur hingga rata.

4. Ambil pinggan tahan panas. Masukkan adonan. Makaroni ini bisa di panggang di oven ataupun di kukus. Jika di panggang bisa di tambahkan keju mozarella di atasnya. Jika di kukus, setelah di kukus lebih baik dimasukkan ke kulkas setelah matang dan dingin. Karena makaroni yang di kukus teksturnya tidak sepadat di panggang sehingga harus d diamkan di kulkas agar padat.

Vaiolaaa.... makaroni schotel sudah siap di santap. Selamat mencoba! Simple qo. Aturan dalam memasak itu, ya.. terbiasa. Makin terbiasa memasak insya allah makanan kita makin enak. Semua orang bisa masak qo :D

Kamis, 07 Agustus 2014

Diantara yang mencinta

Ini sebuah kisah yang tiga orang manusia. Tiga orang yang di antaranya skenario Allah lah yang paling misterius. Kisah yang mungkin terlalu meanstream dan nyata.

Pada satu pertemuan biasa, dua insan bertemu pada kegiatan yang tidak biasa. Sebenarnya si wanita tak berniat mengikuti kegiatan tersebut. Ada aktivitas yang lebih penting diikuti dari itu. Tapi sang wanita terlalu memiliki rasa tidak enakkan, ia akhirnya ikut acara tersebut. Pertemuan pertama biasa. Pertemuan kedua semakin akrab. Hingga pertemuan dan obrolan selanjutnya menjadi tak pernah biasa. Tak terlewati satu hari pun sang pria menyapa sang wanita.

Kenangan demi kenangan pun tercipta. Kenangan yang tidak akan bisa di alami dengan yang lain. Mungkin hanya bisa di gantikan dengan yang lebih terindah dengan orang di depan. Puncaknya, ketika kedua insan tersebut di kondisikan hanya mereka berdua yang kenal diantara yang lain. Semua asing dan baru. Dua hari yang tak biasa. Hingga di penghujung bulan, sang pria mengungkapkan perasaan yang tak biasa. Akhirnya? Ketidaksiapan memang sangat menghinggapi keduanya.

Saat sedang merajut kesiapan.. Wanita terus berkelana. Mengenal siapapun yang bisa d kenalnya. Sang pria mencari pelampiasan. Beraktivitas sana sini. Hingga hinggap di sebuah bukit terpencil, mendidik. Bertemu orang yang tak terdua. Di kenal namun memunculkan sesuatu yang asing.

Setengaj tahun berlalu. Dan sang wanita pun tersadar. Sudah tak ada yang biasa di antara yang biasa dengan sang pria. Hingga sang pria berkenala ke negeri sebrang. Sang wanita mengajak orang tak terduga melakukan aktivitas menyenangkan, menggunakan peralatan sang pria. Saat itu orang yang tak terduga bersikeras menyimpan barang barang sang pria. Ingin memiliki barang barang sang pria. Sang wanita terperajat. Ia tanyakan pada sang pria, beri orang tak terduga atau teman terdekat? Orang tak terduga saja. Fix, ini muncul rasa tak biasa di antara mereka.

Setengah tahun kemudian, sang wanita mengajak sang pria berkelana ke negeri utara. Perkelanaan itu menjadi perkelanaan terakhir di antara kita, ujar dalam hati sang wanita. Entah, ia begitu yakin. Dan selanjutnya dia tak ingin ada pria itu lagi. Mungkin krna sebuah permohonan izin.Yup, itulah yang terjadi. Dan suatu hari nanti mungkin akan bercerita sejujurnya kepada sang pria, bagaimana orang tak terduga bersikap dan bersikeras  memiliki barang sang pria sudah sejak lama. Lama sebelum sang pria kembali pertama kali dari perantauan. Agar ia bisa menjauh tanpa di minta. Ketika diantara yang mencinta.

Sang wanita? Ia memiliki cerita sendiri. Cerita yang lebih tak terduga. Yang ia sendiri belum bisa ungkapkan. Cerita yang akhirnya masih di simpan sang skenario terbaik. Allah. ^^

Senin, 04 Agustus 2014

Data Keluarga Indonesia





Kesejahteraan Keluarga Indonesia

            Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 63.410.649 kepala keluarga. Jawa Bali (38.882.945 kepala keluarga) merupakan daerah dengan jumlah kepala keluarga terbanyak di Indonesia dibandingkan dengan pulau-pulau lainnya (24.527.704 kepala keluarga) dengan pusat kepadatan keluarga berada di provinsi Jawa Barat (11.736.329 keluarga). Jumlah terbanyak keluarga pra-Sejahtera berada pada provinsi Jawa Tengah (2.826.038 keluarga) dan keluarga sejahtera I pada daerah Jawa Barat (3.360.762 keluarga). Sebesar 43,8 persen keluarga Indonesia termasuk dalam kategori pra-Sejahtera dan Sejahtera I. Jumlah tersebut tersebar di Pulau Jawa-Bali 21.85 persen keluarga di Jawa Bali dan 21,9 persen berada di pulau lainnya.
(Sumber BKKBN)

 Keluarga Daerah Tertinggal

Berdasarkan banyaknya kabupaten di provinsi, 100 persen Kabupaten di Sulawesi Barat terdaftar menjadi wilayah tertinggal. Apabila dilihat dari banyaknya jumlah Kabupaten di provinsi tersebut, 20 dari 21 Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (95%) termasuk dalam kategori wilayah tertinggal. Kabupaten Sukabumi (363.588 keluarga), Kabupaten Garut (398.222 keluarga),Kabupaten Pandeglang (174.258 keluarga), Kabupaten Lombok Tengah (223.588 keluarga), dan Kabupaten Lombok Timur (291.925 keluarga) menjadi lima daerah dengan jumlah keluarga pra-sejahtera tertinggi dibandingkan dengan wilayah tertinggal lainnya.  Akan tetapi apabila dilihat berdasarkan jumlah penduduk terbanyak terdapat pada daerah Kabupaten Sukabumi (689.701 kepala keluarga), Kabupaten Garut (664.618 kepala keluarga), Kabupaten Padeglang, Kabupaten Lebak (351.602 kepala keluarga), dan Kabupaten Lombok Timur (392.319 kepala keluarga).
(sumber : BKKBN 2011, Kemensos)

Keluarga di Daerah Rawan Bencana

Di Indonesia sebanyak 60.054.882 keluarga tinggal di daerah dengan tingkat kerawan bencanaan yang tinggi. Kabupaten Garut merupakan daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia dengan jumlah keluarga yang tinggal di Garut sebanyak 664.618 keluarga. Jumlah terbanyak keluarga yang tinggal di daerah dengan status rawan bencana tinggi terdapat pada provinsi Jawa Barat diikuti oleh Jawa Timur. Tapi walaupun begitu, bagi sebagian warga Indonesia aman bukan berarti nyaman. Aman dari bencana tidak menjamin memberikan kenyamanan dalam menjalani hidup.


Bogor, 5 Juni 2013

WILAYAH TERTINGGAL di Indonesia (Areas Of Left Behind In Indonesia)



Indonesia memiliki 183 daerah tertinggal. Berdasarkan banyaknya kabupaten di provinsi, 100 persen Kabupaten di Sulawesi Barat terdaftar menjadi wilayah tertinggal. Apabila dilihat dari banyaknya jumlah Kabupaten di provinsi tersebut, 20 dari 21 Kabupaten di Nusa Tenggara Timur (95%) termasuk dalam kategori wilayah tertinggal. Kabupaten Sukabumi (363.588 keluarga), Kabupaten Garut (398.222 keluarga),Kabupaten Pandeglang (174.258 keluarga), Kabupaten Lombok Tengah (223.588 keluarga), dan Kabupaten Lombok Timur (291.925 keluarga) menjadi lima daerah dengan jumlah keluarga pra-sejahtera tertinggi dibandingkan dengan wilayah tertinggal lainnya yang ada di Indonesia.  Akan tetapi apabila dilihat berdasarkan jumlah penduduk terbanyak , Kabupaten Sukabumi (689.701 kepala keluarga), Kabupaten Garut (664.618 kepala keluarga), Kabupaten Padeglang, Kabupaten Lebak (351.602 kepala keluarga), dan Kabupaten Lombok Timur (392.319 kepala keluarga) merupakan lima wilayah tertinggal di Indonesia dengan jumlah penduduk terbanyak Kalian dapat mendownload data lengkapnya di website www.kpdt.go.id.


Traditional House in NTT


Indonesia has 183 areas of left behind. Based on the number of districts in the provinces, 100 percent regencies in West Sulawesi enrolled into disadvantaged areas. When viewed from the large number of districts in the province, 20 of the 21 districts in Nusa Tenggara Timur (95%) included in the category of disadvantaged areas. Sukabumi (363,588 families), Garut (398,222 families), Pandeglang (174,258 families), Central Lombok (223,588 families), and East Lombok (291,925 families) into five regions with the number of pre-prosperous families the highest compared to the behind the other. However, when viewed by the largest population found in Sukabumi area (689 701 households), Garut (664 618 households), Padeglang district, Lebak District (351 602 households), and East Lombok (392 319 households). You can get detail information about this in www.kpdt.go.id. This website only use Indonesian language. 


Bogor, 27 Mei 2013
 

The Effect Of Family Characteristics, Vulnerability, Family Life Change, And Family Stabilization Based On Family Development Cycle Toward The Elderly’s Quality Of Life

By R. Ifah Kholifah Pitriana
Family and Consumers Science, Bogor Agriculture University


ABSTRACT


The research aimed to analyze the effect of family characteristics, vulnerability, family life change, and family stabilization toward the elderly’s quality of life. This research design is retrospectif and cross sectional. Samples of this research were 34 elderly (60-75 years), who still a spouse, haven’t had, and used purposively selected. The study was conducted in Dramaga subdistrict and used interviews with questionnaires. Quality of life is divided into two that are subjective and objective. Subjective quality of life is measured by perceptions of physical health, social relationship, and environmental. The objective quality of life measured by income, health, education and basic needs. The results showed more than three-quarters of the total sample had a relatively high quality of life.. Stabilization of the family, family life changes, and vulnerability was low. Quality of life influenced  age, length of married, and number of children.





Keyword : family development, family life canges, family stabilization, quality of life, vulnerability, subjective quality of life, objective quality of life


note :  you can read this thesis in http://perpustakaan.ipb.ac.id/index.php/in/koleksi-digital or journal of Community and Word Family Conference in Australia's National University